Sunday, April 25, 2010

Saturday, April 17, 2010

BAGIAN TUBUH WANITA

Review Komik Binatang Jatuh

Setelah melihat beberapa review Binatang Jatuh secara online, saya pikir ada baiknya juga saya posting langsung disini (maaf sekali, dilakukan tanpa izin) agar lebih mudah dilihat. Kalau warna teks terlalu terang, mungkin bisa lebih jelas dengan bloking pada teks tersebut.

Review dari elnotion

Binatang Jatuh brings us a naive fantasy with satirical style, a unique satire exclusive to Erick I would say I’ve seen his cartoon before also to be added his previous book “From Bandung with Laugh”. Err, wait..did I say “naive fantasy with satirical style”? If yes, no I’m not having some kind of vocabularical or even logical (what? syntax?) error here. The truth is like that, at first glance you may say this is a kind of naive fantasy that brings us back to our childhood (and early teenage) where we would wish upon star of something kinda “unchageable”. Where, back then, we were having arguments with our parents or just shrugs when we saw our parents argue to each other. Then we just throw away the reality, dump ourselves on our own imagination, and then we were faced with fable-like reality where we actually spoke with animal, out-of-fantasy. But then we learn that animals are our ver own parents. Yes! That’s the first part I found interesting here, it’s fable-like aura where we see animals talk to each other like they were ordinary human, they think like us, they still act like our parents, thinks of our own good. Wait, I’m throwing too much spoiler here.

Sense something serious here? Yes, the good part is even though you can say this comic as a “fantasi ngawur” in Indonesian you cannot neglect the reality part presented here. The part where the author brilliantly presents through a handful of characters. A child who silently sees his or her parents argue, a parents who argue with his or her child, a child who lives a double personality whether or not his or her parents are around. Yet, all of them wishes their parents would change into a better one so they wish upon and their wish became true! Where fantasy meets reality.

The satire parts, kinda interesting. Since it takes place in Bandung I cannot give so much review. But from what I can get is the author refering on something regarding the town’s sity planning. Yes, I’ve heard a lot from friends, gossips, where Bandung has turned into something like shopping paradise but it’s not that great. Even though it is called paradise there’s so much things that is less than paradise. The city planning just…I don’t know if it’s that bad since I live in Jakarta :P

Anyway the satire are more than that. More than just satirical critics, you can find the satire quite amusing. Most of the laughs I get from reading this comes from the detail in the background. As for the visual, maybe it’s not that great compared by any of other Koloni’s but it has its own style, it his style. Whenever you take a look you can say immediately, “Hey, it’s Erick’s!” It’s not bad for me personally, the style suits the concept, profile, and story well. I can’t say the graphics are bad, in fact I like it! There’s a popular saying that it’s not necessary to have a marvellous skill in drawing if you want to make a comic. Here is the proof, it’s not the skill it’s the identitiy and and how your drawing suits well with yourself. But there’s some condition also and I’m not here to talk about it right now. But just check “Naburo”, the drawing skill makes me cry and eventually it makes me cries even more when it turns out into an actual comic book. So I would say the visual here in “Binatang Jatuh” is great in its own way. You can’t say it is influenced by Japanese or Western, so just throw away that useless argument between Japanese manga and Western comic regarding which one is influencing our comics more. We have Indonesian comic with its own style now.

Next, should we go to the packaging? Since out of other Koloni this one is different. While most of other Koloni packaged in a style that look like standard manga are packaged here in Indonesia, “Binatang Jatuh” packaged in a more similar way on how they package western comics. Bigger size, less thicker (I think it’s caused by the story itself though), full colour with a better paper quality. Also I found this comic placed not in the regular place where they put comic on display, instead on “Dunia Pengetahuan” section(?). I bought this comic on Metropolitan Mall’s Gramedia (Bekasi), I don’t know if it’s an error in arraging or what. Nor even I know how they put it on other place. Oh, also to mention it has a slightly higher price than the other. But come on, I think it’s worth it. :D

So in the end, final words. This one is a comic worth reading and having. Keep it as keepsake for next generation, spread it to your younger relatives, since the idea is not too complex and the morale is good too. Not only the familial issue I’ve mentioned beforem there’s also an environmental issue here. Like I said the critics of somewhat bad city-planning and for us to respect our environment, our flora and fauna, and also our parents. There’s much to learn for any teenager who read this comic. So instead of that gloomy and whining read this comic, it’s not that comical, it’s not that manga-ish, it’s not that dreamy. It’s great, it has drama, funny lines, action, fantasy. Just take a peek a bit and enjoy it. It’s worth having. 4 out of 5 :D



Review dari Wahyudil
[char]

ada 3 macam jenis karakter di sini ... karakter utama yang berupa anak-anak, karakter binatang yang bisa berbicara, dan karakter crowd/kerumunan/figuran yang semua desainnya hampir sama karena merupakan kesatuan polisi ...

- nah, karakter utamanya sungguh membosankan, terlalu menggurui, sulit dibedakan dan hampir mirip semua, dan terlalu serius .. kurang menarik
- karakter binatangnya justru sangat menarik ... mereka mudah dibedakan, hidup, masing2 punya gaya khas masing2 yang mudah terlihat, dan rasanya seru melihat mereka beraksi ... inilah daya tarik utama komik ini
- sementara karakter figuran-nya juga menghibur, karena sumber humor berasal dari mereka2 ini. Dan mirip2 kayak maenan tentara2an di toy story, mereka gak perlu mudah dibedakan, cukup untuk memberikan hiburan ...


[plot]

ceritanya tidak terduga ... kalau bisa bertahan buat membaca awal yang membosankan dan sampai pada inti cerita, maka cerita ini akan memberikan surprise yang tidak disangka2 .... tema nya gwe bilang cukup brilian dan pintar ... walo endingnya terlalu tiba2 memunculkan pengrusakan hutan, tetapi tetap tidak terlalu mengagetkan juga karena masih tetap disinggung di awal walo dikit banget ... *gwe gak spoiler di sini, baca sendiri ye :p*

[penceritaan]

seperti review gwe di awal, cara bercerita komik ini asik untuk dibaca ... dengan gaya gambar yang sudah matang dan berciri-khas, flow yang mengalir, panel dan balon kata yang pas, komik ini enak dinikmati ...

[art]

art nya eric dah mateng dan berciri-khas ... no comment lagi



seperti yang gwe bilang komik ini score nya : 9

kalo tanpa plot yang terlalu boring di bagian awalnya, plus karakter utamanya bisa dibuat lebih menarik, mungkin bisa gwe kasih nilai 10 :D

Review dari Rieza

binatang jatuh.

karya erick yang satu ini absurd, tapi asyik. binatang jatuh. pertama berkenalan
, udah lama, mungkin dua tahunan yang lalu di bandung. pulang, mendapat oleh
oleh komik-komik kecil dari perpustakaan sketsa. blog tempat erick mengaplod
kartun-kartun karyanya. sejak itu jadi sering berkunjung ke perpustakaan sketsa
- perpustakaan maya milik erick dan terkadang, erick mengaplodnya juga di
multiply. lama tidak ada update, erick kemudian muncul dengan komik yang
diterbitkan m&c.

sama seperti kartun dan atau komik strip yang sering ia aplod, komiknya ini juga
masih "bernafas" sama, masih dari kehidupan sehari hari dan unsur lokalnya yang
sangat kentara. segala kejadian aneh tapi nyata yang terjadi di bandung. seperti
yang ia katakan di akhir kata penutupnya, sebagai warga bandung, sudah muak
dengan kemacetan yang timbul akibat kunjungan turis lokal setiap minggunya.
apalagi ditambah dengan semakin berkurangnya ruang hijau, disulap menjadi
mall-mall baru dan factory outlet.

di awal ceritanya saja, pembaca sudah diajak langsung ke pokok persoalan. apakah
bukit di lahan utara akan tetap dijadikan sebagai hutan dan tetap dilestarikan ,
atau akan dijadikan sebagai pusat perbelanjaan terbesar di asia tenggara?
kemudian persoalan yang berhubungan dengan kesadaran lingkungan ini selanjutnya
dibahas dari kacamata para bocah smp dan sd. terus terang, mengingatkan saya
akan salah satu episode upin dan ipin, walau belum tentu erick pernah
menontonnya. persoalan besar soal lingkungan yang kemudian juga bercampur dengan
persoalan yang lebih domestik, ialah persoalan rumah tangga antara istri, suami
dan anak. dipandang masih tetap dari kacamata para bocah.

para bocah ini disatukan dalam sebuah peristiwa aneh, ketika angkutan kota yang
mereka tumpangi ternyata tersesat ke sebuah daerah yang tidak mereka kenal.
menjadi lebih aneh karena bahan bakar sang angkot habis, dan supir angkot harus
pergi mencari bantuan , sehingga para bocah yang menumpang angkotnya ia
tinggalkan. para bocah itu terpaksa harus menginap di dalam angkot , sambil
mengisi waktu para bocah itu saling curhat sesamanya. umumnya mereka curhat
mengenai kekurangan dan kelebihan orang tua masing masing. di malam hari, mereka
melihat bintang berekor di langit. ketika melihatnya, setiap anak mengucapkan
satu permintaan. intinya, mereka ingin situasi domestik di rumah mereka,
berubah.

keesokan harinya. secara absurd, mereka dijemput kembali oleh si sopir angkot,
kembali ke sekolah dan rumah. di rumah, apa yang mereka harapkan kepada bintang
berekor pun manjadi kenyataan. orang tua mereka, telah berubah. telah berubah
wujud menjadi karakter yang mewakili sifat mereka masing masing. ini, cara masuk
ke sebuah cerita yang sangat "smooth" sekali.

memang agak terpengaruh sekali dengan gayanya groening simpson, atau kartun
sejenis simpson di televisi. tapi tetap asyik , karena kemudian erick bermain
main dengan issue lokal. para orang tua masing masing bocah yang telah berubah,
harus diungsikan ke sebuah tempat, karena telah dianggap dan dituduh mengganggu
keamanan dan kenyamanan kehidupan bertetangga di lingkungan masing masing.
bukit hutan di utara menjadi pilihan tepat mengungsikan mereka. setelah menjadi
tempat pengungsian dan tempat tinggal yang baru, pada akhirnya mereka terpaksa
harus berperang dengan pihak yang ingin menjadikan bukit itu mall terbesar di
asia tenggara. dibantu anak-anak mereka, terjadilah perang antara para binatang,
anak-anak melawan pihak korporasi.

memang absurd sekali , pun gaya gambar erick mendukung penceritaan yang ia
kembangkan. seperti gambar main main saja. ini adalah kisah petualangan
anak-anak dengan tema berat yang asyik sekali. adapun yang menurut saya agak
sedikit norak sekali , ialah ... sorry, beberapa endorsment di bagian belakang
buku komik ini, wah ngga banget deh.

-rieza.

Bila ada yang menemukan review lagi seperti diatas, bisa kirim komentar, nanti saya update posting ini.

Sapi animatic 2

video

Another Porfolio.

Saturday, April 03, 2010