Sunday, April 19, 2009

Anak Menyalak Ortu Berlalu (Klik Pada Gambar)


Maaf judulnya agak kurang pas. Ide dapat dari acara Termehek-mehek. Setelah tayangan sinetron yang kurang mendidik, kini junk food bagi otak itu berubah menjadi potret realitas sehari-hari yang dikemas sedemikian rupa, sehingga pada saat sebuah kenyataan diungkap, hal itu dikatalis agar lebih "wah" agar berdaya jual tinggi. Masalah utama selesai atau tidak, bukan masalah, yang penting sudah nampak selesai, tentu saja dikemas dengan musik yang menggambarkan klimaks dan penyelesaian.

Saya pribadi kesal kalau melihat beberapa pertengkaran di tayangan ini tampak dibiarkan beberapa saat, baru dilerai.Kalau mau optimis, mungkin setelah beberapa waktu, tayangan ini juga akan kadaluarsa, seperti juga Katakan Cinta yang sempat ramai.

Kalau mau optimis-bahwa-segala-sesuatu-berakhir-buruk, mungkin tayangan ini nanti akan menelurkan konsep "semakin banyak keburukan diungkap, semakin laku". Dan pola pikir masyarakat akan semakin menggemari penayangan penderitaan orang lain, selama bukan dirinya sendiri. Lalu toleransi meningkat, sehingga tingkat penderitaan yang ditayangkan harus lebih ekstrim. Peraturan baru pun muncul: darah boleh tumpah di layar kaca reality show.

Tapi mungkin saya terlalu pencemas saja. Mungkin siaran televisi tidak sampai separah itu. Semoga saja begitu. Semoga pemikiran seperti itu hanya tiba pada Hostel I & II, SAW 1-5, Cannibal Holocaust, Last House on The Left, Frontiere(s), The Passion of the Christ, dan film-film sejenisnya.

Semoga saja anak-anak yang tumbuh dengan tayangan dan tontonan diatas bisa memiliki minat ke hal lain yang lebih sehat. 

10 comments:

andika said...

Gw jadi bingung, nih. Sebetulnya apa yang membedakan tayangan sehat dan tayangan tidak sehat?

Kemaren kami muter Jungle Fever-nya Spike Lee di RL. Ada yang suka, ada juga yang nggak suka banget. Udah nonton belum? Jadi film ini bercerita tentang prasangka rasial yang terjadi dalam hubungan perselingkuhan antara kulit hitam dan kulit putih.

Ada seorang teman yang berpendapat dengan vokal, bahwa film ini semakin memperbesar perbedaan antara kedua warna kulit tersebut. Yang lainnya mengatakan Jungle Fever adalah film rasial yang gagal karena malah memblow up sesuatu yang tidak penting, yaitu perselingkuhan. Sementara itu penyuka mengatakan bahwa inilah realitas yang ada. Penonton ditantang bersikap cerdas menanggapi apa yang disodorkan Spike Lee ini.

Nah, Termehek-mehek juga kan bagian dari realitas. Mungkin realitas dalam acara ini sudah dikemas supaya keliatan 'sinetronis'. Tapi Spike Lee juga kan menggunakan dramatisasi dalam ceritanya supaya memunculkan perasaan disturbed? Kalau bicara tentang realitas mana yang paling murni, baik Termehek-mehek maupun film Spike Lee dua-duanya tidak murni.

Mungkin Termehek-mehek akan berpengaruh baik apabila ditonton orang2 yang pintar, sehingga mereka jadi bisa menghindari situasi seperti itu. Sebaliknya, apabila ditonton orang2 yang kurang pintar, Jungle Fever bisa jadi semacam pemicu terjadinya konflik antar-ras.

Jadi apa bedanya film Spike Lee dengan Termehek-mehek? Siapa yang berhak menentukan: 1. Mana acara yang sehat dan yang tidak sehat? 2. Mana realitas yang bisa diungkap dan mana yang tidak bisa diungkap?

I know it's a long comment, thanks for reading.

mynameisnia said...

Hmmm.. hmmm... hmmmmm...

Erick S. said...

Oke, mungkin gua ga naro konteks yang jelas. Disini konteksnya adalah tayangan televisi, yang biasanya diputar di jam-jam dimana anak bisa nonton dengan bebas. Untuk filmnya Spike Lee, gw yakin ga sembarang orang yang mau dan suka menontonnya.
Yang masalah disini adalah, biasanya children immitates what they see. Ketika sebuah acara berisi pertengkaran itu jadi trend, dan dicap realistis. Penonton tidak kritis akan menggunakan perilaku itu sebagai contoh. Itupun kalau Orang tua mereka tidak peduli (seperti pada gambar dan pada judul).
Tapi, sekali lagi, gw mungkin terlalu optimis segala sesuatu akan berakhir buruk.

PNMF said...

Hmmm... Satu hal : saya susah membedakan mana reality show dan mana sinetron. Soalnya selain materinya sama aja (kekerasan, perselingkuhan dll), cast-nya juga mirip-mirip kelakuannya : sama-sama tegang dan kaku. Padahal katanya reality show. Dah disuruh jadi diri sendiri masih aja kaku.
Eh, ga nyambung ya? Tapi saya setuju sama Mas Erick S. Soalnya ponakan-ponakan saya yang usia TK sampe SMP menganggap wajar-wajar aja ngeliat orang bertengkar di TV tanpa ada penyelesaian yang 'baik'. Duh, kaya Amerika Vs. 'Teroris' aja, ga ada habisnya!
Mari...

vbi_djenggotten said...

kebetulan saya banyak berkecimpung di dunia broadcast...jadi "sedikit" tahu jeroannya

bener yang digambarkan bang erick,

lagian, kebanyakan pelaku broadcast hanya berorientasi pasar, gak punya visi misi yang jelas selain rating share yang tinggi (meski gak jelas parameternya), gak ada yang berorientasi seperti oprah misalnya, ups ada ding...kick andy...

nah klo termehek-mehek sendiri, ini mah bukan reality show...titelnya aja reality show, dalemnya toh banyak rekayasa...

ini mungkin cerminan masyarakat yang sakit...(masyarakat berarti pula saya)

macangadungan said...

iya, malas juga nonton reality show yang jelas2 pake skenario :( sebagai penonton saya tersinggung dong, seakan2 membodohi penonton. oh ayolah... saya tidak sebodoh itu hingga mau disuguhkan acara televisi seperti itu.

kalo begini terus, kapan bangsa ini bisa pinter?

hufff, klo udah bicara rating dan money oriented, ya udahlah... belum tentu sejalan sama mutu soalnya.

btw, erick, saya boleh minta emailnya ndak? saya perlu pendapat erick tentang web komik, kebetulan TA saya temanya adalah perancangan web komik.

Erick S. said...

@Pnmf: Emang engga ada abisnya he he
@Vbi: Iya, setelah cek ke tiga sumber, ternyata acara termehek2 memang palsu! Kita memang masyarakat sakit.
@Macangadungan: boleh, email aja ke ericbdg2@hotmail.com. Saya sarankan baca juga Reinventing Comic oleh scott mccloud-> banyak ngupas tentang webcomic.

blueismycolour said...

setujuu bgt!!
semakin dramatis..rating na smkin bgus!
kek na org emg hy melihat apa yg ingin mereka lihat!
tmbh byk aje "reality" show dgn modus sejenis ( berasa kejahatan aje ne! >,< )

Salam kenal ya! ^^

-GoenRock said...

Semua kembali kepada kebijakan orang tua :|

macangadungan said...

aku malah udah beli bukunya ric. hahahah... udah beli komikmu juga lohhh....

btw, aku ngirim email ya. makasih :D