Monday, October 20, 2008

24 Hour Comic Day (atau “Kenapa Gua Enggak Dateng ke Nikahannnya Jek & Freddy”)


Sketsa Tentang Suasana Pengerjaan (Klik Pada Gambar)


Sekarang hari Senin pagi, kayanya nyawa masih belum ngumpul total, belum one hundred percent lamun ceuk si Primus mah. Tapi logika mulai jalan, buktinya sekarang bisa ngetik. Ternyata rame juga ikutan 24 Hour Comic Day di Sabtu kemarin.

“Emang kaya gimana gitu acaranya?”

“Oh sederhana kok, hanya bikin dua puluh empat halaman komik, selama dua puluh empat jam.”

“Ah itu mah gampang dong?”

“Engga sulit, tapi ya harus rajin ajah. Gara-gara ikutan ini, sampe ga bisa dateng ke nikahannya Jek dan Freddy. “

“Mereka pasangan?”

“Oh bukan, maksud gua, Jek nikah hari sabtu di jakarta, Freddy nikah hari sabtu di hotel Cemerlang, Bandung. Sebenernya kalaupun gua enggak ikut ke 24HCD (24 Hour Comic Day), gua hanya bisa datang ke salah satu temen. Maaf yah saya ga bisa datang. Rasanya engga enak nih.”

“Sampe dimana tadi?”

“Loh gimana sih? Elu kan yang mustinya nanya?”

“Hmm... Agak lupa... maklum, dua alter ego dalam satu kepala yang nyawanya belum ngumpul dapat menghasilkan wawancara engga sinkron...”

“Ya pokoknya gua ceritain kronologisnya aja, jam sembilan pagi acara dimulai. Sebelum itu udah pada ngumpul dari jam 8-an.”

“Lokasi dimana?”

“Ada dua, satu di Sekolah Komik Pipilaka di daerah Batik Kumeli, satu lagi di STDI, di Jalan Wastukencana.”

“Terus sebelum acara dimulai ngapain aja?”

“Ngobrol, cari afiliasi, kenalan sama temen yang biasa hanya ketemu di dunia maya”

“Wah seru juga tuh!”

“Iya, ketemu dengan komunitas Comic Management School, ngobrol-ngobrol dengan peserta lain, dan seterusnya”

“Waktu udah jam sembilan, langsung otomatis mulai?”

“Engga, dibuka dulu sama Fatah, orang dari Komunitas Cergam Manyala, terus kertas dibagiin. HVS 100 gram. Lumayan tebel.”

“Sempat keder gak liat peserta lain? Kan suka ada yang penampilannya unik banget, atau mungkin malah cosplay disana, atau malah gayanya sujiwo tejo banget, gimana?”

“Hmm kayanya sih normal... ada yang pake tongkat kayu gitu sih, tapi gua lebih merhatiin alat-alat gambar yang dibawa, macem-macem.”

“Oh ya, apa aja?”

“Ada yang satu tim, bawa laptop, dan scanner, jadi setelah sketsa ditebalkan oleh drawing pen, terus discan dan di-edit di Adobe Photoshop. Ada juga yang bawa laptop dan genius tablet, langsung gambar tanpa kertas sama sekali.”

“Wow canggih bener! Terus kualitasnya?”

“Keren, kayak novel grafis City of Glass-nya Paul Auster.

“Terus yang bawa pensil doang juga ada?”

“Setahu saya, yang pake pensil pun memang gambarnya juga udah tebal, karena diarsir habis-habisan, jadi penggunaan kata 'doang' saya pikir tidak perlu.”

“Sepertinya logika kita sudah jalan ya?”

Iya, mulai pake 'saya' daripada 'gua'.”

“Mungkin efek kopi pagi?”

“Bisa jadi.”

“Mari kita panjatkan puji-pujian bagi kopi itu.”

“Mari.”

(Selama sesaat kami bernyanyi sebentar, lalu kembali ke kursi)

“Saya teruskan langsung saja, setelah mulai, ada yang mencari ide, ada yang mulai menggambar. Karena diperbolehkan membawa storyboard atau sketsa kasar, dan biasanya kecil (istilahnya thumbnail sketches; sketsa kuku jempol, karena kecilnya sketsa tersebut).”

“Ada yang persiapannya mateng banget?”

“Waduh, saya engga nanya semua peserta. Pokoknya di ruangan DKV itu, di lantai tiga, peserta sebanyak tiga puluh orang pada konsen sama kertas masing-masing.”

“Oh iya tadi lupa nanya, selain pensil, ada apa lagi?”

“Ada yang pake pena, dicelup tinta gitu, ada yang pake kuas. Saya sendiri pakai pensil untuk sketsa dan spidol snowman untuk menebalkan garisnya. Lumayan murah, dan memang sudah testing alat sebelum hari H-nya. Bolpen mah terlalu tipis, drawing pen juga. Jadi ya marker aja, tapi bukan yang untuk papan tulis loh ya.”

“Persiapan ide bagaimana?”

“Hmm, ada teman yang dapat idenya jam enam pagi, jadi datang udah bawa print out gambar-gambar hasil survey kilat di jagad maya.”

“Bisa diceritakan prosesnya selama dua puluh empat jam itu ngapain aja?”

“Untuk saya sendiri, langkah pertama bikin sketsa perhalaman. Karena saya sudah ada thumbnail sketches, pekerjaan jadi lebih mudah, tinggal memindahkan sketsa ukuran pasfoto 3x4 ke ukuran folio.”

“Berapa lama?”

“Hmm, kira-kira jam tujuh malam sketsa sudah beres, berikut teks dialog juga. Setelah itu saya lanjutkan dengan menebalkan garis sketsa dan teks. Balon teks dan efek suara juga sekalian. Pada jam ini banyak yang sudah mulai tahap penintaan lebih dulu. Bagus juga, saya jadi terpacu untuk terus bikin.”

“Lama juga ya? Pada jam itu engga ada yang masih nyari ide kan?”

“Oh ada juga peserta yang berhenti membuat, lalu mencari ide baru. Mungkin karena merasa kurang sreg dengan ide awal.”

“Itu bukannya mengurangi porsi waktu ?”

“Masih mending, ada juga yang datang pukul sebelas malam, mau ikut juga. Saya pikir kalau memang mau, ya ikut aja, asik kok, terlepas dari selesai atau tidaknya.”

“Ada konsumsi?”

“Ada dispenser dan kopi instan. Tapi untuk makan siang dan makan malam, panitia yang beliin, tapi kita yang bayar. Jadi semacam nitip aja. Ada yang bawa snack juga. Untung juga lokasi dekat dengan Lingkaran K, jadi bisa nyebrang dan beli minum.”

“Guiness?”

“Ehm.. tepatnya Joy Tea...”

“Oh, sok suci ya? Ha ha”

“Engga, saya emang suka teteh-teteh... halah...”

“Terus malam hari ada yang tidur?”

“Yaa, tempat istirahat hanya pojokan kecil, dwifungsi buat mushola juga. Kalaupun tidur, paling hanya satu jam lebih. Banyak yang engga tidur. Saya juga termasuk, bukan apa-apa, hanya takut bablas ketiduran, lalu mimpi sudah beres, dan mendadak bangun besok pagi, sejam sebelum pengumpulan.. Serem, mending puasa tidur deh. “

“Jadi tanpa istirahat sama sekali?”

“Ada istirahat kok, tapi sebentar, paling juga berhenti menggambar, lalu keliling ke peserta-peserta lain, atau ya nyebrang dan beli minum. Waktu makan malam saya juga nyari keluar, ganti suasana..”

“Ada yang nonstop?”

“Mungkin jatah istirahatnya lebih singkat aja. Soalnya kalau sama sekali engga berhenti, ya jangar juga. Ada yang sampe keram tangan segala. Suasana kelas juga hangat dalam artian sebenarnya. Begitu kita melangkah keluar kelas, kerasa banget udara sejuk jam setengah dua belas malam. Peserta itu udah kaya sekumpulan prosesor yang di-overclock.”

“Ada kejadian-kejadian unik?”

“Hmm, ada yang diteleponin pacarnya karena takut selingkuh, tapi yang seru itu pas jam dua subuh, kayanya banyak yang cape otak, jadi ada lelucon sedikit aja, ketawa bisa ngakak banget. Lelucon garing biasa malah bisa bikin sakit perut.”

“Engga ngantuk gitu?”

“Masih bisa ditahan, tapi puncaknya ngantuk itu jam empat subuh, bener-bener nundutan. Saya mulai menggaris di gambar orang ini, tahu-tahu tangan sudah meneruskan garis di teks dialog. Tangan dan otak engga singkron sama sekali. Untung ga kecoret atau ketumpahan minuman. Saya bikin kopi dan menaruhnya di meja belakang, supaya tidak beresiko mengotori kertas.”

“Berhasil?”

“Iya dong, jadi cuma helm dan tas saya saja yang ketumpahan kopi.”

“Ada yang bikin di rumah?”

“Ada, tapi ada juga yang berhenti karena sudah dijemput. Kalau untuk saya, mengerjakan bareng-bareng dikelas terasa seperti begadang saat kuliah. Dan sambil ngobrol sedikit-sedikit, biar enggak stress. Juga lebih kondusif, karena jauh dari kulkas dan ranjang.”

“Bagaimana mengakali ngantuk tadi?”

“Awalnya mau bikin kopi, tapi gelas sudah terpakai semua, dan saya lupa yang mana gelas saya, jadi nyebrang aja deh, beli pocari sweat dan beng-beng dua batang.”

“Dan itu efektif untuk mengusir kantuk?”

“Agak efektif. Seharusnya Beng-Beng itu engga saya habiskan langsung, tapi dikunyah pelan-pelan. Mengunyah itu mengurangi ngantuk. “

“Setelah lewat jam itu bagaimana?”

“Ngantuknya lewat juga, dan karena waktu makin mepet, pengerjaan jadi terpacu untuk ngebut. Bener yang kata Fatah bilang, kalau udah pagi, mendadak dapat kekuatan entah dari mana. Seru juga.”

“Sempat kepikir bakal engga beres?”

“Iya, selalu ada godaan, kaya letupan pikiran, bilangnya 'sudahlah, ini mah ga bakal beres, ikut yang taun depan aja'. Gila aja gua udah ngorbanin ga datang ke nikahan temen hanya demi ikut acara ini, masa mau disia-siakan?”

“Tapi enggak mepet kan?”

“Engga sih, akhirnya beres jam delapan. Tapi memang saat ngebut, kualitas gambar menurun, yang penting selesai. Saya udah tahu ini bakal terjadi, makanya saya kerjakan beberapa halaman awal dulu, lalu beberapa halaman akhir, baru tengah-tengah. Mudah-mudahan efektif. Oh iya, ada yang selesai jam tujuh, tapi setelah dihitung ulang, ternyata kurang satu halaman! Untung masih jam delapan, jadi bisa dikebut. Saya juga jadi serem sendiri, jangan-jangan kurang nih.”

“Dan ternyata?”

“Pas dua puluh empat halaman, sudah dua kali dihitung.”

“Dan jam sembilan teng dikumpulkan?”

“Iya, kaya sekolah dasar aja. Selesai engga selesai dikumpulkan. Pada akhirnya, bukan sebaik apa kamu mengerjakannnya, tapi pengalaman yang kamu dapat itu yang mengajarkan kamu, menampar kamu, dan memberanikan kamu.”

“Hem... hem... dalem...”

“Berapa meter?“

“Ratusan!”

(Kami tertawa sebentar)

“Okeh, terus setelah itu langsung pulang?”

“Engga, dijelasin aja kalau entar dipilih sepuluh yang terbaik untuk dijadiin kompilasi. Dan semua karya, selesai engga selesai bakal dipajang di situs KCBManyala.”

“Hiiy, sereeem!”

“Begitulah. Dag dig dug der lah pokonya. Tapi kita udah semaksimal mungkin mengerjakan, jadi biarin aja masuk sepuluh besar atau engga, pokonya bikin komik mah jalan terus. “

“Iya, itu semangat yang bagus. Ada tokoh komik yang datang?”

“Ya engga dong, mereka itu kan fiktif.”

“Sori, maksud saya tokoh perkomikan.”

“Ada Tony Masdiono, yang keliling dan ngobrol-ngobrol dengan peserta, ada juga Alvanov Spalanzani yang datang malem-malem, meninjau. Selain itu juga ada pemain lama, yang nyari teman-temannya sesama komikus, tapi yaa yang sekarang ini banyak wajah baru, jadi kaya udah ganti generasi.”

“Berarti regenerasi itu jalan kan?”

“Iya, mudah-mudahan bisa survive terus di bidang ini.”

“Maksudnya?”

“Dari beberapa teman yang saya ajak ngobrol, engga semua tertarik untuk menembus penerbitan. Ada yang hanya karena hobi aja, tapi udah jadi satu jilid seukuran komik jepang. Sekarang engga bikin lagi karena sibuk dengan kerjaan. Prinsipnya bener juga sih, hobi ya jangan dibisniskan, nanti hilang serunya. Kadang kalau mau tembus ke penerbit, belum tentu ada penerbit yang cocok, atau yang cukup bermodal. Kalaupun ada, belum tentu mau mempertaruhkan modalnya untuk menerbitkan komik itu. Banyak yang main aman, super aman malah. “

“Gimana kalau pembuat komiknya yang menyesuaikan dengan keinginan penerbit?”

“Nah kalau begitu juga bisa, tapi jangan kejebak jadi usaha bisnis, jadi yang dikerjakan itu untuk penghasilan, sementara yang ideal malah engga sempat dibuat.”

“Memang harus pinter-pinter bagi waktu ya?”

“Ya begitulah, sebaiknya sih karya yang belum diterima penerbit, kita bikin aja dulu, yang penting selesai. “

“Iya, mungkin nanti selera pasar berubah.”

“Saya pribadi engga mau memikirkan itu, pokoknya bikin aja terus, tawarin terus. Kalo tembus ya syukur, kalo engga ya kembali ke nomer satu: bikin terus dan tawarin terus.”

“Siph deh. Ada lagi yang mau disampaikan?”

“Hmm, paling buat yang tahun ini engga sempat ikutan, cobain yah tahun depan. Bagus banget untuk menjalin jejaring dan nambah pengalaman. Bayangkan saja, kalo dalam dua puluh empat jam kita bisa menghasilkan dua puluh empat halaman, bagaimana dengan sebulan? Bisa tujuh ratus empat puluh empat halaman tuh, tapi peserta, kalaupun tidak mati dijalan, punya penyakit baru: insomnia.”

“Ya, terima kasih untuk ide-ide morbid-nya. Wawancara dua insan satu pribadi ini saya akhiri disini.”

“Oke sama-sama.”


***

3 comments:

mynameisnia said...

Wah gila jg ya sampe nggak tidur segala. Udah gitu hasilnya diapain, Rik? Dilombain dan dipublikasiin gitu?

Erick S. said...

Bakal dipajang disitus KCBmanyala.multiply.com, terus 10 terbaik dijadiin kompilasi gitu. Heu heu semoga tembus...

karna said...

di tempat gue seru juga lesehan ngegambar, sampai tulang ekor nyeri. memang yg paling berasa itu capek-nya. haha...