Tuesday, October 28, 2008

Dapet Award Euy!

:) Pagi ini saya dapet award dari Astrid Savitri. He he he senang sekali rasanya bisa bikin orang tersenyum melalui gambar-gambar. Awardnya apaan? 
 "Amazing Blog Award adalah penghargaan blog yang diberikan kepada situs yang: menginspirasimu; membuatmu tersenyum dan tertawa; atau mungkin memberimu informasi mengagumkan; bacaan hebat; mempunyai desain yang menakjubkan; and any other reasons you can think of that makes them uber amazing!" -> kopi paste dari sini.
Lantas peraturannya apa?
1) Taruh logonya di blogmu.
2) Nominasikan setidaknya 5 blog lain yang menurutmu layak.
3) Informasikan pengelola blog tersebut dengan mengirimkan komentar atau mengisi shoutbox.
4) Beritakan kenapa kamu demen banget sama blog yang kamu kasi award itu, dan tulis linknya di blogmu.

Ya mungkin hanya empat poin saja.
Nominasi berikutnya:

1. Halaman Ganjil -> Blognya Mas Anwar Holid. Isinya seputar pergumulan dan masalah sehari-hari yang kadang kita mengalaminya, tapi tidak dapat menuliskannya. Silakan di cek ya.
2. Nguping Jakarta -> Belum tau blog ini? Isinya tentang obrolan sehari-hari di jakarta, yang aneh, lucu, sekaligus bikin kita geleng-geleng kepala. Ayo liat, dan buktikan sendiri bahwa the truth is stranger than fiction! 
3. Warung Fiksi -> Blog yang mengupas dan membahas (eh artinya sama aja ya?) media fiksi. Bagus sekali, karena selalu bertujuan untuk menarik diskusi, bukan sekadar curhat atau opini. 
4. Sukartoen -> Blog seorang kartunis dan desainer yang selalu menghiasi blognya dengan ilustrasi indah.
5. Suparman & Ibab -> Blog berisi komik strip dengan karakter aneh, tapi produktif banget. Silakan di cek.

Monday, October 20, 2008

MEGA CROSSOVER (Klik Pada Gambar)


Ini ada temen kampus yang iseng bikin crossover karakter dari komik rutinnya, sering juga disebut serial KOGAR (Komik Garing).

Selengkapnya untuk koleksi Kogar, silakan cek di http://parmaali.deviantart.com/

Untuk informasi aja, gua engga segemuk yang di gambar... (semoga).

24 Hour Comic Day (atau “Kenapa Gua Enggak Dateng ke Nikahannnya Jek & Freddy”)


Sketsa Tentang Suasana Pengerjaan (Klik Pada Gambar)


Sekarang hari Senin pagi, kayanya nyawa masih belum ngumpul total, belum one hundred percent lamun ceuk si Primus mah. Tapi logika mulai jalan, buktinya sekarang bisa ngetik. Ternyata rame juga ikutan 24 Hour Comic Day di Sabtu kemarin.

“Emang kaya gimana gitu acaranya?”

“Oh sederhana kok, hanya bikin dua puluh empat halaman komik, selama dua puluh empat jam.”

“Ah itu mah gampang dong?”

“Engga sulit, tapi ya harus rajin ajah. Gara-gara ikutan ini, sampe ga bisa dateng ke nikahannya Jek dan Freddy. “

“Mereka pasangan?”

“Oh bukan, maksud gua, Jek nikah hari sabtu di jakarta, Freddy nikah hari sabtu di hotel Cemerlang, Bandung. Sebenernya kalaupun gua enggak ikut ke 24HCD (24 Hour Comic Day), gua hanya bisa datang ke salah satu temen. Maaf yah saya ga bisa datang. Rasanya engga enak nih.”

“Sampe dimana tadi?”

“Loh gimana sih? Elu kan yang mustinya nanya?”

“Hmm... Agak lupa... maklum, dua alter ego dalam satu kepala yang nyawanya belum ngumpul dapat menghasilkan wawancara engga sinkron...”

“Ya pokoknya gua ceritain kronologisnya aja, jam sembilan pagi acara dimulai. Sebelum itu udah pada ngumpul dari jam 8-an.”

“Lokasi dimana?”

“Ada dua, satu di Sekolah Komik Pipilaka di daerah Batik Kumeli, satu lagi di STDI, di Jalan Wastukencana.”

“Terus sebelum acara dimulai ngapain aja?”

“Ngobrol, cari afiliasi, kenalan sama temen yang biasa hanya ketemu di dunia maya”

“Wah seru juga tuh!”

“Iya, ketemu dengan komunitas Comic Management School, ngobrol-ngobrol dengan peserta lain, dan seterusnya”

“Waktu udah jam sembilan, langsung otomatis mulai?”

“Engga, dibuka dulu sama Fatah, orang dari Komunitas Cergam Manyala, terus kertas dibagiin. HVS 100 gram. Lumayan tebel.”

“Sempat keder gak liat peserta lain? Kan suka ada yang penampilannya unik banget, atau mungkin malah cosplay disana, atau malah gayanya sujiwo tejo banget, gimana?”

“Hmm kayanya sih normal... ada yang pake tongkat kayu gitu sih, tapi gua lebih merhatiin alat-alat gambar yang dibawa, macem-macem.”

“Oh ya, apa aja?”

“Ada yang satu tim, bawa laptop, dan scanner, jadi setelah sketsa ditebalkan oleh drawing pen, terus discan dan di-edit di Adobe Photoshop. Ada juga yang bawa laptop dan genius tablet, langsung gambar tanpa kertas sama sekali.”

“Wow canggih bener! Terus kualitasnya?”

“Keren, kayak novel grafis City of Glass-nya Paul Auster.

“Terus yang bawa pensil doang juga ada?”

“Setahu saya, yang pake pensil pun memang gambarnya juga udah tebal, karena diarsir habis-habisan, jadi penggunaan kata 'doang' saya pikir tidak perlu.”

“Sepertinya logika kita sudah jalan ya?”

Iya, mulai pake 'saya' daripada 'gua'.”

“Mungkin efek kopi pagi?”

“Bisa jadi.”

“Mari kita panjatkan puji-pujian bagi kopi itu.”

“Mari.”

(Selama sesaat kami bernyanyi sebentar, lalu kembali ke kursi)

“Saya teruskan langsung saja, setelah mulai, ada yang mencari ide, ada yang mulai menggambar. Karena diperbolehkan membawa storyboard atau sketsa kasar, dan biasanya kecil (istilahnya thumbnail sketches; sketsa kuku jempol, karena kecilnya sketsa tersebut).”

“Ada yang persiapannya mateng banget?”

“Waduh, saya engga nanya semua peserta. Pokoknya di ruangan DKV itu, di lantai tiga, peserta sebanyak tiga puluh orang pada konsen sama kertas masing-masing.”

“Oh iya tadi lupa nanya, selain pensil, ada apa lagi?”

“Ada yang pake pena, dicelup tinta gitu, ada yang pake kuas. Saya sendiri pakai pensil untuk sketsa dan spidol snowman untuk menebalkan garisnya. Lumayan murah, dan memang sudah testing alat sebelum hari H-nya. Bolpen mah terlalu tipis, drawing pen juga. Jadi ya marker aja, tapi bukan yang untuk papan tulis loh ya.”

“Persiapan ide bagaimana?”

“Hmm, ada teman yang dapat idenya jam enam pagi, jadi datang udah bawa print out gambar-gambar hasil survey kilat di jagad maya.”

“Bisa diceritakan prosesnya selama dua puluh empat jam itu ngapain aja?”

“Untuk saya sendiri, langkah pertama bikin sketsa perhalaman. Karena saya sudah ada thumbnail sketches, pekerjaan jadi lebih mudah, tinggal memindahkan sketsa ukuran pasfoto 3x4 ke ukuran folio.”

“Berapa lama?”

“Hmm, kira-kira jam tujuh malam sketsa sudah beres, berikut teks dialog juga. Setelah itu saya lanjutkan dengan menebalkan garis sketsa dan teks. Balon teks dan efek suara juga sekalian. Pada jam ini banyak yang sudah mulai tahap penintaan lebih dulu. Bagus juga, saya jadi terpacu untuk terus bikin.”

“Lama juga ya? Pada jam itu engga ada yang masih nyari ide kan?”

“Oh ada juga peserta yang berhenti membuat, lalu mencari ide baru. Mungkin karena merasa kurang sreg dengan ide awal.”

“Itu bukannya mengurangi porsi waktu ?”

“Masih mending, ada juga yang datang pukul sebelas malam, mau ikut juga. Saya pikir kalau memang mau, ya ikut aja, asik kok, terlepas dari selesai atau tidaknya.”

“Ada konsumsi?”

“Ada dispenser dan kopi instan. Tapi untuk makan siang dan makan malam, panitia yang beliin, tapi kita yang bayar. Jadi semacam nitip aja. Ada yang bawa snack juga. Untung juga lokasi dekat dengan Lingkaran K, jadi bisa nyebrang dan beli minum.”

“Guiness?”

“Ehm.. tepatnya Joy Tea...”

“Oh, sok suci ya? Ha ha”

“Engga, saya emang suka teteh-teteh... halah...”

“Terus malam hari ada yang tidur?”

“Yaa, tempat istirahat hanya pojokan kecil, dwifungsi buat mushola juga. Kalaupun tidur, paling hanya satu jam lebih. Banyak yang engga tidur. Saya juga termasuk, bukan apa-apa, hanya takut bablas ketiduran, lalu mimpi sudah beres, dan mendadak bangun besok pagi, sejam sebelum pengumpulan.. Serem, mending puasa tidur deh. “

“Jadi tanpa istirahat sama sekali?”

“Ada istirahat kok, tapi sebentar, paling juga berhenti menggambar, lalu keliling ke peserta-peserta lain, atau ya nyebrang dan beli minum. Waktu makan malam saya juga nyari keluar, ganti suasana..”

“Ada yang nonstop?”

“Mungkin jatah istirahatnya lebih singkat aja. Soalnya kalau sama sekali engga berhenti, ya jangar juga. Ada yang sampe keram tangan segala. Suasana kelas juga hangat dalam artian sebenarnya. Begitu kita melangkah keluar kelas, kerasa banget udara sejuk jam setengah dua belas malam. Peserta itu udah kaya sekumpulan prosesor yang di-overclock.”

“Ada kejadian-kejadian unik?”

“Hmm, ada yang diteleponin pacarnya karena takut selingkuh, tapi yang seru itu pas jam dua subuh, kayanya banyak yang cape otak, jadi ada lelucon sedikit aja, ketawa bisa ngakak banget. Lelucon garing biasa malah bisa bikin sakit perut.”

“Engga ngantuk gitu?”

“Masih bisa ditahan, tapi puncaknya ngantuk itu jam empat subuh, bener-bener nundutan. Saya mulai menggaris di gambar orang ini, tahu-tahu tangan sudah meneruskan garis di teks dialog. Tangan dan otak engga singkron sama sekali. Untung ga kecoret atau ketumpahan minuman. Saya bikin kopi dan menaruhnya di meja belakang, supaya tidak beresiko mengotori kertas.”

“Berhasil?”

“Iya dong, jadi cuma helm dan tas saya saja yang ketumpahan kopi.”

“Ada yang bikin di rumah?”

“Ada, tapi ada juga yang berhenti karena sudah dijemput. Kalau untuk saya, mengerjakan bareng-bareng dikelas terasa seperti begadang saat kuliah. Dan sambil ngobrol sedikit-sedikit, biar enggak stress. Juga lebih kondusif, karena jauh dari kulkas dan ranjang.”

“Bagaimana mengakali ngantuk tadi?”

“Awalnya mau bikin kopi, tapi gelas sudah terpakai semua, dan saya lupa yang mana gelas saya, jadi nyebrang aja deh, beli pocari sweat dan beng-beng dua batang.”

“Dan itu efektif untuk mengusir kantuk?”

“Agak efektif. Seharusnya Beng-Beng itu engga saya habiskan langsung, tapi dikunyah pelan-pelan. Mengunyah itu mengurangi ngantuk. “

“Setelah lewat jam itu bagaimana?”

“Ngantuknya lewat juga, dan karena waktu makin mepet, pengerjaan jadi terpacu untuk ngebut. Bener yang kata Fatah bilang, kalau udah pagi, mendadak dapat kekuatan entah dari mana. Seru juga.”

“Sempat kepikir bakal engga beres?”

“Iya, selalu ada godaan, kaya letupan pikiran, bilangnya 'sudahlah, ini mah ga bakal beres, ikut yang taun depan aja'. Gila aja gua udah ngorbanin ga datang ke nikahan temen hanya demi ikut acara ini, masa mau disia-siakan?”

“Tapi enggak mepet kan?”

“Engga sih, akhirnya beres jam delapan. Tapi memang saat ngebut, kualitas gambar menurun, yang penting selesai. Saya udah tahu ini bakal terjadi, makanya saya kerjakan beberapa halaman awal dulu, lalu beberapa halaman akhir, baru tengah-tengah. Mudah-mudahan efektif. Oh iya, ada yang selesai jam tujuh, tapi setelah dihitung ulang, ternyata kurang satu halaman! Untung masih jam delapan, jadi bisa dikebut. Saya juga jadi serem sendiri, jangan-jangan kurang nih.”

“Dan ternyata?”

“Pas dua puluh empat halaman, sudah dua kali dihitung.”

“Dan jam sembilan teng dikumpulkan?”

“Iya, kaya sekolah dasar aja. Selesai engga selesai dikumpulkan. Pada akhirnya, bukan sebaik apa kamu mengerjakannnya, tapi pengalaman yang kamu dapat itu yang mengajarkan kamu, menampar kamu, dan memberanikan kamu.”

“Hem... hem... dalem...”

“Berapa meter?“

“Ratusan!”

(Kami tertawa sebentar)

“Okeh, terus setelah itu langsung pulang?”

“Engga, dijelasin aja kalau entar dipilih sepuluh yang terbaik untuk dijadiin kompilasi. Dan semua karya, selesai engga selesai bakal dipajang di situs KCBManyala.”

“Hiiy, sereeem!”

“Begitulah. Dag dig dug der lah pokonya. Tapi kita udah semaksimal mungkin mengerjakan, jadi biarin aja masuk sepuluh besar atau engga, pokonya bikin komik mah jalan terus. “

“Iya, itu semangat yang bagus. Ada tokoh komik yang datang?”

“Ya engga dong, mereka itu kan fiktif.”

“Sori, maksud saya tokoh perkomikan.”

“Ada Tony Masdiono, yang keliling dan ngobrol-ngobrol dengan peserta, ada juga Alvanov Spalanzani yang datang malem-malem, meninjau. Selain itu juga ada pemain lama, yang nyari teman-temannya sesama komikus, tapi yaa yang sekarang ini banyak wajah baru, jadi kaya udah ganti generasi.”

“Berarti regenerasi itu jalan kan?”

“Iya, mudah-mudahan bisa survive terus di bidang ini.”

“Maksudnya?”

“Dari beberapa teman yang saya ajak ngobrol, engga semua tertarik untuk menembus penerbitan. Ada yang hanya karena hobi aja, tapi udah jadi satu jilid seukuran komik jepang. Sekarang engga bikin lagi karena sibuk dengan kerjaan. Prinsipnya bener juga sih, hobi ya jangan dibisniskan, nanti hilang serunya. Kadang kalau mau tembus ke penerbit, belum tentu ada penerbit yang cocok, atau yang cukup bermodal. Kalaupun ada, belum tentu mau mempertaruhkan modalnya untuk menerbitkan komik itu. Banyak yang main aman, super aman malah. “

“Gimana kalau pembuat komiknya yang menyesuaikan dengan keinginan penerbit?”

“Nah kalau begitu juga bisa, tapi jangan kejebak jadi usaha bisnis, jadi yang dikerjakan itu untuk penghasilan, sementara yang ideal malah engga sempat dibuat.”

“Memang harus pinter-pinter bagi waktu ya?”

“Ya begitulah, sebaiknya sih karya yang belum diterima penerbit, kita bikin aja dulu, yang penting selesai. “

“Iya, mungkin nanti selera pasar berubah.”

“Saya pribadi engga mau memikirkan itu, pokoknya bikin aja terus, tawarin terus. Kalo tembus ya syukur, kalo engga ya kembali ke nomer satu: bikin terus dan tawarin terus.”

“Siph deh. Ada lagi yang mau disampaikan?”

“Hmm, paling buat yang tahun ini engga sempat ikutan, cobain yah tahun depan. Bagus banget untuk menjalin jejaring dan nambah pengalaman. Bayangkan saja, kalo dalam dua puluh empat jam kita bisa menghasilkan dua puluh empat halaman, bagaimana dengan sebulan? Bisa tujuh ratus empat puluh empat halaman tuh, tapi peserta, kalaupun tidak mati dijalan, punya penyakit baru: insomnia.”

“Ya, terima kasih untuk ide-ide morbid-nya. Wawancara dua insan satu pribadi ini saya akhiri disini.”

“Oke sama-sama.”


***

Wednesday, October 15, 2008

Ngomik 24 Jam, Euy!


ACARA 24 Hour Comics Day Bandung

Ajang perhelatan Cergam/komik skala Internasional, acara yang menghasilkan 24 halaman dalam jangka waktu 24 Jam.

Diselenggarakan pada tanggal 18 – 19 Oktober 2008 dimulai pada pukul 09.00 WIB tanggal 18 Oktober 2008.

Mengikuti acara ini tidak dikenakan biaya apapun alias GRATIS!
Terkecuali atas permintaan peserta untuk kebutuhan konsumsi dan hasil copy 24 HCD.

Gaya gambar BEBAS! Terserah bagaimana cara ekspresi kamu dalam ngomik.

Koordinator lapangan: M. Fatahillah (Pembina KCB Manyala)

Di Bandung di selenggarakan di dua tempat:
1. STDI Jl. Wastukencana No. 52
Fasilitas:
- Ruang Kerja dan ruang kerja khusus perokok.
- Ruang Istirahat dan ruang khusus istirahat untuk perempuan.
- Kamar mandi dan toilet.
- Tidak tersedia fasilitas hot spot.
- Tidak tersedia fasilitas computer.
- Akses ke tempat mudah karena dilalui oleh berbagai macam jurusan angkutan umum (Abd.Muis-Ledeng, Margahayu-Ledeng, St.Hall-Cimbeluit, Sederhana-BuahBatu, Caringin-Sedangserang)
- Untuk kenyamanan peserta, dibatasi maksimal 30 orang.
Penanggung jawab: Toni Masdiono (Dosen STDI)
2. Pipilaka Sekolah komik Jl. Sido Mulyo No. 47, Sukaluyu Bandung 40123.
Fasilitas:
- Ruang Kerja dan ruang kerja outdoor khusus perokok.
- Ruang Istirahat dan ruang khusus istirahat untuk perempuan.
- Kamar mandi, musholla dan toilet.
- Tersedia akses internet.
- Tersedia dua computer dan scanner.
- Untuk kenyamanan peserta, dibatasi maksimal 20 orang.
Penanggung jawab: Yanuar Rahman (CEO Pipilaka)

Syarat & Ketentuan Peserta:
1. Daftarkan nama dan pilihan tempat melalui:
- SMS ke nomor 0818232650 tulis:
Reg spasi <;pilihan tempat penyelenggaraan>
Contoh: Reg Suryadi STDI
- E-mail ke kcb_manyala@yahoo.com tulis:
Nama lengkap:
Nomor telp/HP:
Alamat:
E-mail:
Pekerjaan:
Sekolah/lembaga/studio:

2. Umur peserta 15 tahun ke atas, bagi yang masih bersekolah harus ada surat ijin dari orang tuanya.
3. Registrasi ulang pada hari H, tolong bawa KTP/SIM/KTM untuk pendaftaran ulang. Diharapkan peserta hadir 1 jam sebelum penyelenggaraan. Untuk kebutuhan regristrasi maupun pemilihan tempat kerja. Siapa cepat dia dapat.
Bagi yang telat melewati batas yang ditentukan panitia, tidak ada tambahan waktu. Misal: Mulai Jam 9, peserta datang jam 10. Biasakan datang tepat waktu.
4. Para peserta dibenarkan membawa peralatan sesuai dengan kebutuhan dalam kegiatan membuat cergam/komik. Peserta dibenarkan menggunakan jasa asisten sebanyak maksimal 2 orang.
5. Para peserta dibenarkan menyusun konsep sampai storyboard sebelum waktu penyelenggaraan 24 HCD, tapi tidak dibenarkan membawa komik yang sudah selesai ada pantauan dari panitia penyelenggaran.
6. Bagi peserta yang memilih digital comic, bawa sendiri kebutuhannya (sambungan kabel, laptop, dan scanner sendiri) atau bisa dibawa pulang tapi harus menyerahkan karyanya paling lambat 10 menit sebelum jam 09.00 pada tanggal 19 Oktober 2008.
7. Para peserta dibenarkan membawa kebutuhan pribadi dari makanan sampai keperluan mandi. Panitia juga menyediakan layanan pemesanan konsumsi tapi hanya menu yang tersedia.
Misal: Jam 12 siang menu nasi padang, jam 19.00 malam menu mie goreng, 07.00 pagi bubur ayam.
8. Dilarang keras bawa minuman keras maupun benda-benda yang dilarang dan membahayakan (pisau, bom, pistol, narkoba misalnya) di tempat penyelenggaraan 24 HCD.
9. Peserta diwajibkan mematuhi peraturan yang dibuat oleh panitia dan tolong menjaga sikap selama berlangsungnya acara. Tidak dibenarkan melakukan tindakan asusila selama terselenggara acara 24 HCD.
10. Apabila peserta tidak memenuhi atau melanggar ketentuan di tempat penyelenggaraan, kepesertaannya akan dibatalkan alias tidak tercantum nama dalam data 24 HCD Bandung.
11. Hasil 24 HCD dikumpulkan kepada panitia di tempat penyelenggaraan untuk kebutuhan penyeleksian. Peserta dapat mengambil kembali karyanya paling lambat setelah 2 minggu setelah waktu berakhirnya penyelenggaraan 24 HCD.
12. Selain Hasil 24 HCD dikirim ke tempat penyelenggaraan akan diseleksi, 10 hasil terbaik akan dibukukan dengan cara penerbitan sendiri (Xerox way).
Dengan ukuran A5, sampul berwarna, isi hitam putih dengan cara fotocopian diproduksi sesuai dengan jumlah banyaknya pemesan, paling lambat 1 bulan setelah hari penyelenggaraan. Bagi yang berminat dan ingin memesan hasil copy 24 HCD dengan harga Rp 20.000,- pembayaran dimuka, bisa diambil di tempat penyelenggaraan. Apabila pemesanan lebih dari 1000 ekslempar akan dilakukan dengan mesin cetak dan harga bisa di discount 40%.

Kriteria penilaian:
1. Memenuhi standar 24 halaman sudah termasuk sampul judul.
2. Orisinal bukan adaptasi dari judul komersial yang sudah ada.
3. Konsep, cerita, plot, dan visual memenuhi penilaian penjurian.
4. Nilai tambah bagi yang mengusung muatan lokal (budaya, kehidupan sosial, dsb).

Juri penilaian dari:
1. Toni Masdiono pengarang 14 Jurus Komik, Pembina KCB Manyala, Dosen, dan Praktisi.
2. M. Fatahillah Pembina KCB Manyala, Editor Majalah !-Con & Viz-Lit.
3. Yanuar Rahman CEO Pipilaka sekolah Komik.
4. Alvanov Zpalanzani Dosen DKV ITB.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Komunitas Cergam Bandung (KCB) MANYALA atas kerjasama dengan: Desain Komunikasi Visual ITB, Sekolah Tinggi Desain Indonesia, Pipilaka Sekolah Komik.

Bagi rekan-rekan semua yang berminat tolong disebarkan kepada rekan-rekan lainnya.

Terima kasih atas perhatiannya.

Pembina KCB MANYALA.

InFo MANYALA:
KCB MANYALA sebagai media partner dengan CCF Bandung mengadakan acara Pameran Seabad komik Berbahasa Prancis diselenggarakan pada tanggal 14 - 31 Oktober 2008 dari jam 10.00 - 17.00

Pameran Hantu-hantu dari Hanoi oleh Gerald Gorridge.
Pembukaan: Kamis, 6 November 2008
Workshop dan pameran: Jum'at & Sabtu 7 - 8 November 2008.

C U THERE!

Saturday, October 11, 2008

GENERASI KOMIK SEMAU GUE (Artikel Dari Kompas Jawa Barat)



GENERASI KOMIK SEMAU GUE

OLEH HERLAMBANG JALUARDI


"Komik saya, ya terserah saya." Kira-kira begitulah ujaran yang pantas disematkan kepada komunitas pembuat komik di Bandung saat ini. Pakem baku komik dibenturkan dengan semangat "semau gue" itu.



Garis kaku panel untuk memhatasi suatu adegan tidak lagi menjadi suatu keharusan. Susunan adegan dibiarkan berserak di setiap lembar.

Gaya ini tampak di dua komik karya Tita Larasati: Curhat Tita dan Transition. Komiknya tidak tebal sampai ratusan halaman. Gambarnya pun masih menyisakan arsiran-arsiran bolpoin dan tidak diwarnai, seperti sketsa yang belum sclesai. Hanya sampulnya yang penuh warna.

Cerita kedua komik ini sederhana dan ti­dak bermaksud melucu ataupun menggurui. Benar-benar hanya menceritakan kehidupan sehari-hari Tita dan keluarga serta lingkungan tempat mereka tinggal. Kalaupun ternyata ada kegetiran dan kelucuan, memang kedua unsur itu lazim ada di setiap fragmen hidup, termasuk Tita. Karena itu, ada tulisan "graphic diary” di setiap sampul komik yang diterbitkan CV Curhat Anak Bangsa tahun 2008 ini.

Dalam kata pengantar komik Curhat Tita, Tita menuliskan, pada mulanya ia menjadikan gambar sebagai "bentuk laporan" kegiatan sehari-hari di sebuah keluarga saat magang di Jerman tahun 1995. la mengirim gambar itu kepada orangtua di Jakarta melalui facsimile. Lembaran facsimilee ini kemudian difotokopi untuk dibagikan kepada sanak saudara.

Kebiasaan berkirim gambar ini terus ber-langsung hingga ia beralih menggunakan buku sketsa. Hal ini membuat pengarsipan gambarnya lebih terjamin. Gambar-gambar itulah yang terangkum di CurhatTita.


Ayam goreng kampung

Kejadian yang ditemui sehari-hari juga menjadi sumber ide bagi Erick Sulaiman. Sebagian kecil karyanya terangkum dalam Perpustakaan Sketsa: Kumpulan Komik Strip Gila terbitan PT Kumata Indonesia (Desember,2007).

Pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Nasional ini menjadikan hal biasa menjadi lebih komikal. Dijalan-jalan Kota Bandung, Erick kerap melihat menu makanan ayam goreng kampung. Frasa itu memberi rangsangan untuk membayangkan seekor ayam yang sedang menggoreng sebuah perkampungan. Itlulah yang ia gambar menjadi komik strip.

Naif dan bermuatan lokal seakan menjadi ciri karyanya. Salah satu komik stripnya menceritakan keluarga Bodo (keluarga ke-linci) sedang berwisata di Lembang. Dalam perjalanan mereka berhenti mengisi perut. Setelah menemukan waning, mereka makan dengan lahap, dan bahkan akan menambah. Niat dibatalkan setelah mereka tahu bahwa yang mereka makan adalah daging kelinci.


Era internet

Komikus bernama pena Ivy Black meng-ambil tema keseharian yang lebih ekstrem daripada dua komikus tadi. Ia menerbitkan komik tentang hubungan cinta sesama laki-laki dengan judul Sunset Glow.

"Seru aja melihat hubungan sesama laki-laki itu," kata perempuan kelahiran Bandung ini. Ivy melabeli komiknya dengan batasan umur 18 tahun ke atas. Ia mengaku terinspi-rasi dari film kartun tentang homoseksual yang banyak beredar di internet. Internet pula yang dipilih Ivy sebagai salah satu media berpromosi.

"Aku enggak mungkin menjual komik terang-terangan. Lewat internet dan jaringan-nya, orang bisa menghubungi kalau ingin mendapatkan komik aku," kata Ivy yang punya beberapa alamat situs web ini.


Dunia maya

Dunia maya juga menjadi ruang bagi Tita dan Erick memublikasikan karya mereka de­ngan segera. Halaman web Tita menampil-kan beberapa karyanya yang belurn dipublikasikan dan mempromosikan dua komik yang sudah terbit. Begitu juga dengan web milik Erick.

Bahkan, komik strip yang sudah dicetak awalnya sudah ia pajang di web-nya. Setelah versi cetaknya terbit, ia menghapus komik itu. Kini, beberapa komik baru pun sudah ia unggah dan bisa dibaca pengunjung web. "Nantinya, komikbaru itu juga akan dihapus kalau sudah dicetak," kata Erick,

Memajang karya di internet bagi Erick adalah upaya "memasarkan" namanya seba­gai komikus, Pembajakan karya yang rawan terjadi di jagat maya pun tidak ia hiraukan. "Semakin banyak orang men-download ko­mik saya dari internet, semakin banyak orangyang mengakui karya saya," katanya.

Begitulah, jagat per-komik-an di Bandung terus bergulir dengan menerbitkan "komik-komik" baru di setiap generasi.



Friday, October 10, 2008

The Children of Hurin, Review



A Refreshing visit towards middle earth, and at the same time, a darker one. The story tells about the life and (spoilers!) death of Turin Tambarin, son of Hurin. The mostly narrated novel begins after the war of a thousand tears (Nirnaeth Arnodiad), thousands of years before the event on The Lord of The Rings. Here, battle agains the dark forces was a futile attempt. Death is near, and sad news are daily digest. No, I won't go further in details here, but if you're asking what kinda movie atmosphere would fit in the story, I'd say the animated version of Beowulf would come near. No happy ending, no lovable characters, except for the dark legions, of course, with a special emphasize on Glaurung, the father of all dragons. Beautifully ilustrated by Alan Lee, which makes me stop reading and spend some minutes watching the painting and sketches in every chapter. If you're looking for some nice fantasy reading, I don't think this is what you're looking for, but if you're looking for something different about the world of middle earth, then this is it.

Friday, October 03, 2008

KOMIK ADA APA DENGAN CINTA 2

Sudah dari beberapa bulan kemarin gua kepikiran terus untuk bikin komik ini, yang idenya dapat dari hasil nulis iseng tentang fanfiction
Selama ini selalu ditunda, maksudnya untuk nunggu momen yang tepat, biar ngerjainnya bisa maksimal, gambarnya bisa mirip dll. Tapi dasar udah kebelet, gua paksain aja selesai dengan gaya seadanya -mudah-mudahan ga ancur-ancur banget-  akhirnya beres juga dalam lima hari he he he (Sengaja tanpa pensil dan sketsa, biar cepet).
Perbaikan dan  improvisasi dilakukan di kompu dengan Toko Foto Adob dan wakom seken.
Rasanya menyenangkan pas bikin, ga ada beban harus baik dan benar kaya ngarang BI waktu sekolah. 
Eniwei, cerita bertutur mengenai kelanjutan dari versi filmnya. 
untuk membaca cerita selengkapnya!  Pokonya gila abis deh!