Wednesday, September 24, 2008

AKSI UU PORNOGRAFI PADA KOMIK PERSEPOLIS (Klik Pada Gambar)


Melihat kejadian diatas, saya berpikir mungkin nantinya (kemungkinan terburuk) RUU Pornografi bisa jadi diterapkan serupa, karena pasal-pasal yang ambigu. Baiklah untuk mudahnya, saya posting dua pasal yang menurut saya sangat rancu:

  1. (Ps. 1) Pornografi adalah materi seksualitas yang dibuat oleh manusia dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, syair, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan komunikasi lain melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat.
  2. (Ps. 6) Setiap orang dilarang memperdengarkan, mempertontonkan, memanfaatkan, memiliki, atau menyimpan produk pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1), kecuali yang diberi kewenangan oleh perundang-undangan.

Setelah ditelaah lagi, pasal 1 itu sangat mudah ditafsirkan berbeda, karena hasrat seksual manusia sulit sekali untuk diatur. Seorang pria bisa saja menganggap seorang wanita berpakaian jaket biru, gelap dan longgar dianggap merangsang, sementara di sisi lain, seorang nenek berusia 103 tahun dengan kemben minim dianggap biasa-biasa saja. 
Saya punya kekuatiran, pasal ini bisa menjadi landasan hukum bagi massa seperti FPI untuk menggerebek dan menindas tempat dan orang yang, menurut sudut pandang mereka, melanggar pasal 1. 
Hasrat seksual tidak bisa dipahami secara hitam-putih. Ada yang menganggap leher jenjang itu seksi, ada juga yang menganggap bibir seperti Angelina Jolie (atau mungkin Mandra) itu mengundang hasrat. Ada juga yang mengatakan sangat bergairah saat melihat kuli bangunan yang berotot membawa sekarung semen sambil bermandikan berkeringat, tentu dengan hanya berpakaian singlet dan celana jeans sobek-sobek ala Dexys Midnight Runners. 
Oke, intinya adalah, hasrat seksual adalah hal yang sangat abu-abu, sulit untuk dipetakan mana yang mengundang birahi, mana yang tidak. Yang jelas, semakin dicekoki oleh materi pornografi, otomatis seseorang itu akan semakin mudah untuk berpikir kearah sana. Jika setiap saat pikiran seseorang hanya fokus pada Facebook, Javascript, Sepakbola, dan kamera SLR yang supermurah di daerah glodok, saya pikir akan sulit untuk berpikir ke arah pornografi. Malah bisa timbul istilah seseorang yang "terangsang" oleh performa prosesor Intel terbaru yang berkapasitas delapan kali prosesor biasa.
Untuk RUU Pasal 6, saya pikir itu juga membingungkan. Bagaimana negara dapat mengetahui apakah setiap orang memiliki materi pornografi atau tidak? 
Apakah nantinya setiap laci pada setiap lemari di setiap kamar pada setiap rumah akan digeledah? Lalu pelaksananya siapa? Polisi biasa? Ataukah unit khusus "Polisi Syariat" seperti pada komik Persepolis? 

Lagi pula jika, kemungkinan terburuknya, RUU disahkan secara voting, bukankah itu tidak sah? Bukankah seharusnya disahkan secara musyawarah untuk mencapai mufakat? Mau dikemanakan demokrasinya?

Tambahan, selengkapnya mengenai RUU Pornografi -> Klik Ke sini.

6 comments:

iyoem said...

iya rik sepakat gua, gw juga udah mulai cape ama pemerintah yang nggak jelas lagi kucing-kucingan ama siapa, bahkan sama abu abunya dengan definisi PORNO..

welcome to the real democrazy man!

Anonymous said...

Intinya mah, negeri kita ini akan dibuat negeri 'tandus'..dus. Maksudnya? Iya, kalau ada Westernisasi, kenapa ngga ada Arabisasi? Kalau RUU Porno itu di sahkan jadi UU, jelas kita akan mundur lagi, ngga cuma ke zaman Jahiliyah, tapi langsung ke zaman dimana seorang Nabi Yahudi pernah disodori para 'FPI & MUI zaman itu' seorang perempuan yang (katanya) berzina. Pemerintah harusnya ngga CUMI...Cuma Mikirin yang porno-porno :)_ Salam, DW (Orientalfly)

mynameisnia said...

Iya ya, bingung juga. Sementara polisi itu cunihin. Razia PSK aja colong2 megang bokong. Ih...

tito said...

Persepolis is damn good. Dulu saya dapat bukunya dengan judul revolusi iran terbitan resist jogja. Persepolisnya baca yang edisi bahasa inggris. Sekalian aja aku beli yang embroidery :D.

Bener rik, ada orang yang liat anak-anak biasa aja, tapi berbeda dengan pedofili. Sebenarnya makin dilarang pasti makin banyak yang penasaran, mending cari cara menumbuhkan moralitas warganegara indonesia dari dalam. Bisa dimulai dari tubuh pemerintahan, no korupsi, no free sex (ingat kasusnya Yahya Zaini)

Erick S. said...

Yang jelas kalo bener dijadikan UU, anggota DPR bakal banyak yang kena nih he he he

Alfi said...

UUnya udah disahkan kan?? Tapi anggota DPR kok gak pada kena ya?? Ini mah jelas2 proyek UUD...Ujung-Ujungnya Duit!! Menurut gw ini juga merendahkan martabat kaum pria, kesannya kaum pria gak bisa ngejaga syahwatnya...