Friday, December 21, 2007

Seminar Komik di Artspace 59

Tanggal 14 Desember kemarin, gua ikutan seminar komik di artspace 59, oke juga, kritis dan ngebuka wawasan baru, berita selengkapnya baca aja di sini dan di sini, berita secara subjektifnya, bacalah terus kebawah.

Gua suka banget pas bagian penjelasan tentang riset yang dilakuin Peter Van Dongen buat Rampokan Jawa & Rampokan Celebes. Buku pertama abis 7 taun utk riset dan produksi. Buku kedua dibantu oleh komputer dalam pengerjaan warna, jadi memangkas waktu produksi lumayan banyak sehingga keseluruhan pembuatan hanya memakan tempo enam tahun saja. Dan uniknya, cerita sudah ada di kepala dia, berikut karakter dan konflik-konfliknya. Jadi tinggal survey sejarah dan lapangan.

Apakah itu cukup? Ternyata mau segila apa pun survey, kesalahan itu bisa aja tetep ada, tapi minim banget. Contoh disini misalnya becak yang digambar Peter di sulawesi itu becak Jawa, bukan becak Sulawesi.

“Jadi gimana?“

“Gampang kok, setiap panel dia tip ex satu-satu becaknya, lalu digambar ulang.”

Itu bener-bener harga yang harus dibayar buat sebuah kesempurnaan. Edhyaaann. Musti belajar banyak nih.

Oh iya satu lagi yang berkesan adalah penuturan dari John De Rantau, sutradara Senandung Denias. Dia survey untuk filmnya dengan tinggal di Papua selama kurang lebih seminggu, belajar adat, kebudayaan, kebiasaan-kebiasaan, dll, termasuk "mas kawin" standar berupa babi. Jadi kalau mau nikahin cewe di sana, kalo dia anak biasa, mungkin sepuluh babi (asli, bukan kalengan) bisa ditukar dengannya. Kalau dia anak kepala suku, mungkin sekitar seratus ekor babi baru bisa.

Eniwei, dari pengalamannya John, kita dapet banyak sekali tentang bagaimana menyelami suatu karya, dan kadang kelemahan kita yang terjebak dalam tampilan visual (look) sebuah karya, tanpa menuangkan pengalaman diri ke dalam karya tersebut.

Yeah, gua juga suka gitu kok, cari referensi gambar yang keren, terus diambil sebagai inspirasi, tapi cerita seadanya. Jadinya ya cerita seadanya dengan tampilan lebih mending dikit.

Jika dibalik, cerita lebih kuat dan survey seadanya, itu masih lebih berkesan, walaupun mungkin agak mengganggu. Yang jelas, semuanya tergantung si pembuat, mau dibawa kemana karya ini, serealistis mungkin, atau se-enggak nyambung mungkin, atau se-setengah hati mungkin.

“Ya, kira-kira begitu yang saya tangkap, ada pertanyaan anak-anaaak?”

Dscn1221idits

Oh iya, sedikit tambahan, Sapi Pangalengan gua bisa bersanding dengan karakter-karakternya Thoriq, Tony Masdiono, Tita, Dedefox dan cergamikomikus lainnya. Hueheheh merasa keren nih weheheh hahahah hohoho hihihih ahahahaha hiuhiuhiu wehihehiuhahahudah ah tar disangka kumat.

1 comment:

Andra said...

Nice blog!Salam kenal! Kalo pingin join program buat nyari duit baca di blog aq klik di sini!
Gratis,mudah dan menyenangkan!Suer!